MELAYANI:
-SERVICE SEGALA MERK SEPEDA MOTOR
-DIESEL BENSIN
-MOTOR INJEKSI
-TAMBAL BAN -SPARE PART
-CUCI MOTOR -KURSUS MEKANIK



Rabu, 01 Mei 2013


otomotifnet.com


Selasa, 02 April 2013 10:10 WIB
Knowledge

Utilitas Rantai Motor, Kenali Jenis dan Kodenya!

Rantai yang sebagai pemindah daya dari putaran gear box ke roda, punya peranan penting pada tunggangan. Makanya pengendara harus kenal lebih jauh mengenai jenis keberadaan peranti ini. Seperti kode atau angka yang tercetak di kemasan rantai. Sebagai pemilik motor, harus tahu arti kode itu agar tidak salah pakai rantai.

Kode mengandung arti baik untuk kekuatan ataupun ukuran. Sehingga tidak salah pilih. Juga tahu peruntukannya.

Subtitusi Gir Set
Untuk kepentingan modifikasi, substitusi gir dan rantai kerap dilakukan. Buat kejar endurance atau biar awet, umumnya aplikasi ukuran yang lebih besar.

“Seperti Yamaha Scorpio yang aslinya pakai rantai 428 bisa aplikasi rantai lebih besar milik Honda tiger (520). Tapi, harus diikuti ubahan gir depan dan belakang,” ujar Ari Supriyanto dari bengkel Protehnics, Rempoa, Jakarta Selatan. 

Sedangkan buat kejar akselerasi, biasanya pakai rantai yang lebih kecil. Seperti pada  Yamaha Vega yang ukuran 428 diganti pakai ukuran 415 dari produk aftermarket.

Misalnya; Osaki, Daytona atau SSS. Substitusi juga bisa pakai part orisinal Yamaha Vega ZR. Yaitu, 420. Sedang di Honda Supra Fit atau Supra X (100 cc) yang pakai rantai 428 ingin pakai rantai 420 milik Honda Blade atau Supra X 125. Tinggal ganti nap gir dulu, kalau gir depan tinggal pasang.

Jenis Rantai
Ada beberapa jenis rantai yang biasa diaplikasi pada motor baik jenis bebek ataupun sport. Nah, rantai roda yang umum dipakai ada beberapa  tipe 415, 420, 428, 428H dan 520. Untuk rantai di bawah 428, biasanya diaplikasi untuk jenis bebek. Sedangkan 428 dan 520 diaplikasi motor sport macam Scorpio (428) dan Tiger (520).

Khusus buat Honda Supra X, dari pabriknya aplikasi 428. Untuk kepentingan modifikasi, substitusi gir dan rantai kerap dilakukan. Buat mengejar endurance atau biar lebih awet, umumnya aplikasi ukuran yang lebih besar. Seperti Yamaha Scorpio yang aslinya pakai rantai 428 bisa aplikasi rantai lebih besar milik Honda tiger (520). 

Kode Rantai Huruf
Selain angka, ada juga huruf. Seperti, kode rantai 420SB-102, 428H-116, dan 520V-106. Huruf SB berarti solid bushing. Solid bushing berarti bushing yang dibikin seperti pipa. Jenis bushing yang biasa seperti pelat ditekuk jadi seperti pipa. Huruf H artinya high tension yang membedakan bahan di pelat bagian dalam.

Rantai dengan kode H berarti pelat dalamnya lebih tebal. Rantai berkode H punya daya tahan minimum tarikan beban 2,1 ton. Sedang tanpa kode H, 1,70 ton. Artinya huruf V, spesial. V, tanda ada sil penahan gemuk di dinding luar bushing. Bushing dengan kode V termasuk kategori solid busing.

Kode Rantai Angka
Biasanya ada 6 baris angka yang ada di kemasan rantai. Itu merupakan kode rantai yang tandai panjang dan lebarnya. Contohnya, 428-104. Angka yang berada di depan atau angka 4 menunjukan jarak antar pin. “Pin merupakan selongsong yang menyambung antar pelat,” ujar Ari Supriyanto dari bengkel Protehnics. 

Satu angka paling depan ada cara hitungannya sendiri. Kalau di depan angka  4, berarti 4/8 inci. Kalau dihitung, 1 inci sama dengan 25,4 mm. Berarti 4/8 x 25,4 mm yang hasilnya 12,5 mm. Jadi, rantai yang di depannya 4 jarak antar pinnya 12,5 mm.

Lantas, angka kedua dan ketiga punya arti jarak antar pelat dalam. Pelat dalam disebut juga inner plate yang posisinya tepat di bawah pelat atas. Kedua pelat ini, bisa kelihatan langsung pakai mata. Angka 28 berarti jarak lebar pelat 7,94 mm. Angka itu didapat dari tabel standar rantai.  

Setelah tiga angka yang tertera di depan, ada lagi angka yang menunjukan panjang rantai. Seperti 104 berarti panjang rantai 104 mata. Panjang rantai tidak punya satuan. Angka yang menunjukan panjang rantai, berarti jumlah mata rantai tempat masuknya gigi-gigi gir belakang dan depan.  (motorplus-online.com)
Penulis : Belo | Foto : Boyo

0 Komentar untuk artikel ini

Form Kirim Komentar

karakter tersisa.
twtwfb tw
:
:
:
Disclaimer
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA


otomotifnet.com


Rabu, 03 April 2013 09:01 WIB
Knowledge

Tentang DOT Minyak Rem, Beda Titik Didih dan Bahan

DOT yang menjadi standar dalam pemakaian minyak rem singkatan dari Departement of Transportation (DOT). Lembaga di Amerika ini mengetes berbagai hal mengenai transportasi. Salah satunya, standar minyak rem.

Untuk minyak rem, standar yang direkomendasikan DOT 3, DOT 4, dan DOT 5. "Ketiganya dibedakan berdasarkan titik didihnya," bilang Peter Dionisius dari PT Autochem Industry.

DOT 3 memiliki titik didih 205 derajat celsius,  DOT 4 titik didih lebih tinggi lagi. Yaitu, 230 derajat celsius. Ada lagi nih. Yaitu, DOT 5 yang titik didihnya 260 °C. Dan yang terbaru, ada DOT 5.1. Titik didihnya, 10 °C lebih tinggi dari DOT 5. Yaitu, 270 derajat celsius.

Selain titik didih, standar tersebut juga membedakan bahan dasarnya. "DOT 3, DOT 4 dan DOT 5.1 bahan dasarnya glycol esther. Sedangkan DOT 5 bahan dasarnya silicon," terang Dion, sapaan Peter Dionisius. Bahan silicon itu tak bisa bercampur dengan air.

 Selain campuran air, penggunaan DOT yang berbeda masih bisa dilakukan. Tetapi perlu dipertimbangkan kandungannya. “Penggantian dari DOT 3 ke DOT 4 masih dimungkinkan. Tetapi, kalau dari DOT 4 ke DOT 3, risikonya gak sepadan. Titik didihnya kan rendah, kemungkinan rem kurang pakem,” ujarnya.

Sedangkan dari DOT dari 4 ke 5 juga harus dipertimbangkan. Karena, bahan dasarnya beda. “Kalau mau naik dari DOT 4, mending ke DOT 5.1 yang bahan dasarnya sama,” kata Dion. (motorplus-online.com)
Penulis : Tining | Foto : Endro

0 Komentar untuk artikel ini

Form Kirim Komentar

karakter tersisa.
twtwfb tw
:
:
:
Disclaimer
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA


otomotifnet.com


Rabu, 03 April 2013 18:31 WIB
Bedah Teknologi Yamaha X-Ride

Ini Rahasia X-Ride Lebih Responsif di Putaran Bawah!

Roller X-Ride yang kanan, lubang tengah lebih besar artinya lebih ringan. 
Meski mengaku tetap menggunakan mesin yang platform-nya sama dengan Soul GT, namun pihak PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) lewat press realese-nya mengklaim ada peningkatan respon di putaran bawah.

Akselerasi bawah dan tarikannya lebih spontan pada jarak 0 sampai 50 meter bila dibandingkan dengan Soul GT. Lalu dimana bedanya?

"Secara prinsip kami menggunakan mesin yang sama dengan Soul GT," buka Bayu Astyawanto, dari Technical Service PT YIMM.

Mesinnya tetap 115 cc, 4 langkah, 2 valve SOHC, berpendingin udara. Teknologinya sudah mengaplikasi injeksi YMJET-FI dengan Forged Piston dan DiAsil Cylinder.

Tapi ada setting ulang pada transmisi CVT-nya. Ternyata akselerasi yang lebih baik ini ternyata didapat dari penggunaan roller CVT yang lebih ringan. "Roller yang dipakai X-Ride 8 gram, sedang Soul GT 9,5 gram," beber pria ramah ini.

Bila dibandingkan, roller pada X-Ride memiliki dimensi yang sama persis dengan Soul GT. Diameternya tetap 15 mm dan lebarnya 12 mm. Sehingga bisa saling tukar dengan Soul GT atau Mio J.

Tapi bobotnya yang berbeda. Cara membandingkannya secara visual gampang yaitu lewat material logam di tengah roller. Pada roller X-Ride yang lebih ringan, lubang di tengah lebih besar ketimbang roller Soul GT.

Sederhana kan! (motorplus-online.com)

Penulis : Popo | Foto : Popo

0 Komentar untuk artikel ini

Form Kirim Komentar

karakter tersisa.
twtwfb tw
:
:
:
Disclaimer
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA