MELAYANI:
-SERVICE SEGALA MERK SEPEDA MOTOR
-DIESEL BENSIN
-MOTOR INJEKSI
-TAMBAL BAN -SPARE PART
-CUCI MOTOR -KURSUS MEKANIK



Senin, 25 Februari 2013

Fullwaving Suzuki Shogun NR / FU150

Sama kayak Honda Beat/Vario, fullwaving Suzuki Shogun NR dan Satria FU150 (saya sih blom pernah bongkar langsung FU150, tapi konon sama spek-nya — bedanya cuma speedo digital di FU150) musti “disconnect” ground spul.
Stator Suzuki Shogun NR / FU150
Sesuai gambar di atas, kawat yang terhubung ke tab GROUND spul musti dicabut/dipotong …
Kawat ground spul dicabut/dipotong
Selanjutnya ujung kawat tadi disambung dengan kabel tambahan untuk dijadikan jalur pengisian menuju regulator fullwave (misal, regulator Honda Tiger). Instalasi lengkapnya bisa dilihat dari skema di bawah:
Skema fullwaving Suzuki Shogun NR / FU150
Saya saranin pakai regulator/kiprok yang original, karena regulasi voltasenya lebih bagus, terutama tuk FU150 yang pakai speedometer digital. Speedometer ini gak bisa kena voltase di atas 15V DC, karena bakal ngedip dan nge-reset. Cara kedua, dengan membatasi (regulasi) voltase di jalur suplai ke speedometer agar voltasenya di bawah 15V, misal dengan menggunakan IC LM7812.
Kalo kurang jelas, atau mau sharing, silakan join di trit “Kiprok” @ kaskus.us … http://www.kaskus.us/showthread.php?t=953217

Kode Warna Resistor

Kode warna gelang resistor untuk range E12/E24 …

Bikin Sein Hazard :)

Kebanyakan user rela memodifikasi fungsi sein ke hazard dengan men”jumper” kedua jalur sein kiri & kanan. Tentu aja fungsi sein nggak ada lagi, karena meski sakelar sein di-klik ke kanan atau ke kiri, tetap keempat lampu sein nyala berbarengan. Dulunya saya pakai trik vulgar ini :D Kendalanya, cukup repot kalo mau berbelok arah karena pengendara lain nggak tau ke mana kita mau berbelok. Dan tentu cara ini menyalahi peraturan lalin :(
Cara kedua, cukup sederhana … mirip seperti cara pertama tapi kali ini menggunakan sakelar tambahan khusus untuk mengatifkan fungsi hazard. Sakelar yang digunakan bertipe DPST (dual-pole single throw). Gunakan ukuran yg cukup kecil untuk disisipkan di setang motor …
Sein+Hazard sederhana
Dengan cara di atas, fungsi sein masih bisa digunakan. Kendalanya, kalo fungsi hazard sedang aktif, fungsi sein nggak bisa digunakan. Jadi kalo mau berbelok arah, fungsi hazard harus dimatikan dahulu (dengan meng-klik sakelar hazard), kemudian klik sakelar sein untuk menyalakan sein … Kadang ribet juga :D
Cara ketiga, dengan menggunakan modul (rangkaian elektronik) khusus untuk mengendalikan fungsi sein dan hazard. Modalnya nggak banyak … cuma perlu 2 buah relay DPDT (dual-pole dual-throw) 8-kaki …
Relay DPDT 8-pin
… 2 butir resistor 82~100 ohm 1/4 watt …
Resistor 82 ohm
… 4 butir diode rectifier 1A, tipe 1N4001, 1N4002 atau 1N4007 …
Diode rectifier 1A
… 1 buah sakelar SPST (single-pole single-throw) …
Sakelar SPST (OFF-ON)
beberapa potong kabel (kalo bisa warnanya sama seperti warna kabel-kabel di motor), sekeping kecil PCB polos satu layer (ukuran 4.5X3.0 cm), dan boks untuk menyimpan rangkaian/modul.
Ini print-out PCBnya (format CorelDRAW X1) … langsung print, cetak ke PCB, dan rakit komponennya :)
http://hotfile.com/dl/89802373/80c2cbe/novaera_sein-hazard.cdr.html
Ini layout rangkaian dan wiring-nya …
Sein+Hazard Layout
Setelah rangkaian selesai dirakit, saatnya instalasi di motor … Ini contoh pemasangan modul “Sein-Hazard” di motor Honda :)
Instalasi modul "Sein+Hazard"
Nah, dengan modul ini, ketika hazard sedang menyala, trus sakelar sein dinyalakan, hazard akan OFF sementara, dan kemudian otomatis menyala kembali ketika sein dimatikan. Jadi nggak harus mematikan hazard terlebih dahulu untuk menyalakan sein :D

Driver LED (dengan MOSFET)

Ini rangkaian driver LED sederhana referensi dari gajah_gendut @ kaskus.us …
Driver LED sederhana

Fullwave Yamaha Jupiter, Mio, Nouvo, Xeon

Modifikasi fullwave pada motor Yamaha Jupiter MX/Z, Vega ZR, Mio, Xeon, Nouvo lebih gampang dibanding motor laen. Pasalnya ground spulnya nggak tertanam di stator … jadi nggak musti bongkar generator/alternator motor :-D Cirinya, perhatikan kabel-kabel yang ada di soket alternator … kalo di situ terdapat kabel berwarna putih, kuning, dan hitam, berarti motor kamu termasuk yang gampang dimodif fullwave.
Caranya? Lihat diagram di bawah:

Sebelum bongkar-bongkar, cabut fuse aki atau kabel terminal “+” aki … ini untuk mencegah konslet apabila jalur suplai listrik menyentuh ground secara nggak sengaja.
Disconnect soket spul … pada soket yang menuju spul, cabut jalur kabel kuning dan hitam. Kabel kuning diisolasi (ini nggak dipakai) dan kabel hitam disambungkan ke kabel tambahan — panjang kabel secukupnya, kira-kira bisa menjangkau posisi regulator. Kalo sudah, connect lagi soket spulnya. Jadi di soket ini cuma kabel putih yang terhubung ke kabel bodi.
Lanjut … Ganti regulator/kiprok bawaan motor dengan regulator fullwave milik Honda Tiger — bisa jg regulator fullwave lainnya. Perhatikan, ada 6-kaki di regulator Tiger … 1-2-3 di atas dan 4-5 di bawah.
Cabut kabel merah dari soket kiprok lama dan pasangkan ke regulator Tiger #1.
Cabut kabel hitam dari soket kiprok lama dan pasangkan ke regulator Tiger #3.
Cabut kabel putih dari soket kiprok lama dan pasangkan ke regulator Tiger #4.
Sedangkan kabel tambahan yang terhubung ke kabel hitam spul langsung dipasangkan ke regulator Tiger #5.
Masih ada satu kabel lagi di soket kiprok lama, yaitu kabel kuning. Cabut kabel ini, gabungkan dengan kabel cokelat dan pasangkan ke regulator Tiger #2. Kabel cokelat merupakan jalur “+” dari kunci kontak.
Masih kurang jelas??? Baca lagi skema di atas!!! :-D

Honda Beat: Ganti sein LED malah error?!

Pernah nyoba ganti bohlam sein Honda Beat dengan LED tapi nyalanya malah ngawur?? Coba ganti flasher sein bawaan dengan flasher sein elektronik. Flasher elektronik bisa dibeli di toko-toko onderdil/aksesoris sepeda motor dengan kisaran harga Rp 5000,- hingga Rp 10.000,-
Ini contohnya:


Oke? Masih ngawur? Well, permasalahannya ada di indikator sein yang ada di speedometer. Indikator ini mengadopsi indikator tunggal, artinya satu indikator untuk sein kiri dan kanan.
Kok bisa error? Itu karena jalur listrik untuk indikator sein memakai metode “sharing plus-minus” … hehehe, nggak tau apa bahasa kerennya … perhati’in skema di bawah:
Skema indikator sein tunggal
Dari skema di atas tampak nggak ada jalur “+” dan “ground” pada indikator sein. Melainkan jalur “+” sein kiri dan jalur “+” sein kanan. Plus ketemu plus kok bisa nyala? Itu karena ada perbedaan potensial antara kedua jalur … saat sein kiri aktif, jalur sein kiri memiliki potensial/voltase lebih tinggi daripada jalur sein kanan … lampu sein kiri dan indikator sein menyala, namun lampu sein kanan tidak menyala. Begitu juga sebaliknya. Tapi begitu bohlam sein kiri dan kanan diganti LED, maka kedua sein (kiri & kanan) akan menyala bersamaan, nggak peduli yang diklik sakelar sein kiri atau kanan. Filamen pada bohlam indikator sein menjadi “jumper” yang menghubungkan jalur “+” sein kiri dengan “+” sein kanan.
Solusinya? Secara sederhana adalah dengan mencabut bohlam indikator sein … dengan begitu nggak ada shortage antara jalur sein kiri dengan sein kanan. Kekurangannya, kita nggak tau apakah sein menyala atau tidak, karena nggak tampak di panel speedometer.
Solusi kedua, lebih baik meski sedikit ribet :-D Yaitu dengan menambahkan sebutir diode rectifier (1N4001 atau sejenis) di tiap-tiap jalur indikator sein. Kemudian ujung keduanya, setelah diode, disatukan menjadi jalur “+” murni untuk indikator sein. Sementara jalur lainnya dihubungkan ke ground. Lebih jelasnya lihat skema berikut:
Skema indikator sein tunggal (mod)
Nah, setelah modifikasi tadi lampu sein motor bakal menyala dengan benar, meski menggunakan LED sekalipun :-)

Honda Beat: Kelistrikan Fullwave (Part-2)

Part-2: Modifikasi Jalur Kelistrikan & Mengganti Regulator Fullwave

Setelah memodifikasi alternator menjadi fullwave, kini saatnya mengganti regulator/kiprok bawaan motor dengan kiprok fullwave. Di sini saya menggunakan regulator milik Honda Tiger. Harga regulator ini sekitar Rp 250rb (branded AHM). Atau bisa menggunakan regulator Tiger produk lain (non-AHM) yanghanya berharga Rp 80rb.
Regulator Honda Tiger
Regulator fullwave 1-phase milik Honda Tiger
Regulator Tiger berukuran sedikit lebih lebar dibanding regulator bawaan Honda Beat. Jadi pinter-pinter menentukan lokasi pemasangannya :-D Usahakan nggak jauh dari posisi alternator dan aki, biar irit kabel, huehuehue :-D Regulator ini memiliki 5-pin … 3 pin di atas (kita urut menjadi pin #1, #2, dan #3) dan 2 pin di bawah (kita urut menjadi pin #4 dan #5).
Nah, sekarang sedikit mengubah jalur pengkabelan (wiring) … Oia, jangan lupa melepas fuse 15A atau disconnect terminal “+” aki untuk mencegah aki short/konslet secara nggak sengaja pada saat instalasi kabel.
Oke. Masih inget, kabel dari spul/stator? Di situ terdapat 3 kabel standard (putih, kuning, dan biru-kuning) plus satu kabel tambahan (cokelat). Kabel putih merupakan jalur spul pengisian (charging), kuning sebagai jalur spul lampu, dan biru-kuning sebagai jalur pulser ke CDI. Sementara kabel tambahan (cokelat) merupakan perpanjangan (extension) dari ground spul.
Gunakan multimeter (disarankan yang digital, lebih mudah dibaca) untuk mengukur kontinuitas jalur-jalur spul tersebut. Set multimeter ke range “continuity” (baca buku petunjuknya).
Pasang probe/tester multimeter, masing-masing ke kabel putih dan kabel tambahan. Multimeter harus berbunyi beep, menandakan kedua jalur terhubung dengan baik — fullwave single-phase hanya menggunakan satu kawat tembaga.
Selanjutnya pasang probe/tester multimeter masing-masing ke kabel putih dan rangka/ground. Kemudian antara kabel tambahan (cokelat) dan rangka/ground. Multimeter harus tidak berbunyi beep, karena jalur kabel putih dan jalur kabel tambahan nggak boleh terhubung langsung dengan rangka/ground DC.
Selanjutnya, cabut skun kabel kuning (jalur spul lampu) dari soket spul. Jalur ini nggak digunakan, mengingat lampu nantinya bakal mengambil suplai dari aki. Jika jalur aki terhubung dengan jalur spul akan membuat spul rusak/terbakar. Jadi pastikan kabel kuning dilepas dari soket spul. Jangan lupa diisolasi dengan rapat agar nggak konslet ke mana-mana.
Untuk kabel biru-kuning biarkan aja, karena ini merupakan jalur pulser yang mengatur timing pengapian pada CDI.
Lanjut ke regulator …
Usahakan untuk menggunakan soket untuk regulator Tiger. Kalo susah mendapatkannya, bisa dicari di toko-toko elektronik atau toko onderdil mobil. Biasanya dikenal dengan sebutan “soket 6-kaki baring”. Atau bilang aja soket kontak mobil. Nah, di soket regulator lama ada 4 kabel terpasang … merah (jalur positif aki), putih (jalur spul pengisian), hijau (jalur ground), dan kuning (jalur lampu). Pindahkan kabel merah ke pin #1 regulator Tiger. Lalu pindahkan kabel hijau ke pin #3 regulator Tiger. Kemudian pindahkan kabel putih ke pin #4 regulator Tiger. Untuk kabel kuning, paralelkan dengan jalur output kunci kontak (hitam) dan pindahkan ke pin #2 regulator Tiger. Pin #2 merupakan jalur monitoring tegangan. Di sini kita bakal memonitor tegangan aki melalui jalur “+” output kunci kontak — kunci kontak terhubung dengan jalur “+” aki dijembatani dengan fuse 10A. Jadi fungsi monitoring hanya akan bekerja jika kontak pada posisi ON.
Sementara lampu mengambil suplai listrik dari aki melalui jalur output kunci kontak. Dengan begitu lampu hanya bisa dinyalakan jika kunci kontak pada posisi ON. Itulah kenapa jalur kabel kuning tadi kita jumper dengan kabel hitam dari output kunci kontak.
nah, sisa satu pin lagi … Inget kabel tambahan pada spul? Sekarang pasang kabel ini LANSUNG ke pin #5 regulator Tiger. Kalo nggak sampai, gunakan kabel tambahan.
Sudah terpasang semua? Sekarang coba hidupkan mesin motornya … Jangan memasang fuse aki (15A) atau kabel terminal “+” aki dahulu. Kita akan mencoba menyalakan mesin motor dan kelistrikannya hanya dari suplai regulator. Gunakan starter kaki (engkol), jangan menggunakan starter elektrik! Jika mesin bisa menyala, berarti regulator dalam kondisi baik. Sekarang ukur voltase output regulator. Set multimeter pada range 20VDC dan pasang probe/tester multimeter pada kabel terminal “+” dan “-” aki. Dalam kondisi tanpa beban regulator Tiger bisa menyuplai hingga 14~15VDC (dengan asumsi kondisi langsam pada 1600RPM). Kemudian nyalakan headlamp, sein, klakson untuk memberi beban listrik. Semuanya harus menyala dengan baik. Oia, jangan menggeber gas terlalu tinggi. Cukup seperlunya saja (kira-kira setara dengan berjalan pada kecepatan 30~40 km/jam). Voltase output regulator nggak boleh melonjak naik terlalu jauh dari 15V, karena regulator ini memang membatasi output voltase maksimal 15V. Lebih dari itu berarti kemungkinan regulator error dan musti diganti. Dan pada kondisi terbeban, voltase output regulator juga nggak boleh kurang dari 12.8VDC. Jika itu terjadi, ada kemungkinan aki bakal tekor karena tidak terisi (charge) dengan baik.
Selesai! Modifikasi fullwave udah berhasil :-)
Oia, jalur lampu bisa juga langsung mengambil suplai dari aki. Tentu melalui relay yang di-drive oleh jalur output kontak. Gunakan relay otomotif/mobil! Skema pemasangan secara lengkap bisa dilihat di bawah:

Honda Beat: Kelistrikan Fullwave (Part-1)

Part-1: Modifikasi Alternator Fullwave

Modifikasi kelistrikan fullwave pada Honda Beat gampang-gampang susah. Gampang sebenarnya sih, tapi susah jika nggak punya peralatan yang memadai untuk bongkar pasang. Sistem kelistrikan fullwave mengharuskan untuk memisah ground AC dan ground DC, dan mem-floating ground AC. Sementara ground AC sendiri diletakkan di bodi stator. Stator sendiri berada di balik flywheel magnet. Jadi mau nggak mau harus bongkar stator dulu :-D
Alternator Honda Beat terletak di sebelah kanan, di sisi knalpot … tepatnya di balik kipas pendingin mesin.

Setelah membuka cover kipas dan kipasnya, lanjutkan dengan membongkar flywheel magnet. Untuk yang satu ini musti punya alat khusus, yaitu flywheel puller atau dikenal sebagai treker magnet.



Selanjutnya tinggal membongkar stator …

Posisi ground AC atau ground spul ada di kawat tembaga yang tersolder di tab yang ada kabel hijaunya …

Nah, lepaskan kawat tersebut dari tab ground … bisa pake solder, bisa dipotong :-D Sementara kabel hijau biarin aja … itu adalah jalur ground untuk pulser.

Kemudian tambahkan kabel ektra, warna bebas (di sini saya pakai kabel warna cokelat), ukuran paling tidak sama dengan kabel spul, dan yang penting tahan panas :-)

Sambungkan ujung kabel tadi dengan ujung kawat ground yang dicabut tadi … Jangan lupa tutup/isolasi sambungan tersebut dengan heat-shrink atau selang bakar agar tidak konslet dengan yang lainnya.

Rapikan kembali supaya nggak tersambar flywheel magnet yang bakal berputar kencang …

Nah, stator tadi udah menjadi stator fullwave. Ground spul nggak lagi menyatu dengan bodi stator karena sudah disambung dengan kabel tambahan tadi … tinggal dirakit kembali ke “tempat”nya semula …

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar